|
Tanam Legowo diterapkan secara luas oleh petani
Senin, 04 Maret 2013 20:00
“Anjuran Gubernur
dan Bupati Lebak untuk tanam sistem
tanju/legowo”
Sasaran pembangunan
pertanian salah satunya adalah pengembangan sistem dan usaha pertanian yang
dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat petani. Namun dalam proses
pengembangannya dibutuhkan dukungan teknologi yang tepat, kemampuan
sumberdaya manusia dan alam serta adanya dukungan modal. Untuk itu pendekatan
Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) diimplementasikan sebagai hasil
perumusan identifikasi permasalahan usahatani padi. PTT sebagai suatu pendekatan
telah diimplementasikan sejak tahun 2006 melalui berbagai program pengkajian
dan diseminasi di BPTP Banten seperti perbanyakan benih, PRIMA TANI,
SL-PTT, FEATI serta program lainnya melalui demplot di lokasi-lokasi yang
berbeda.
Provinsi Banten
sebagai sentra produksi padi mampu terus meningkatkan produktivitas padi
dengan kisaran produktivitas 5,2-6,2 ton/ha mampu menghasilkan produksi 1,8
juta ton GKG pada tahun 2009. Dengan produksi tersebut, Banten mampu mencapai
swasembada beras, bahkan surplus 66.823 ton setara beras. Komponen
utama yang diimplementasikan dan mampu diadopsi oleh masyarakat petani adalah
penggunaan varietas unggul baru (VUB), penggunaan bibit muda (18-21 HSS), dan
sistem tanam legowo. Penggunaan VUB umumnya berdaya
hasil tinggi, tahan terhadap hama penyakit utama dan toleran dengan
lingkungan setempat. Saat ini petani mulai menggunakan varietas padi yang
cukup beragam dan memiliki potensi hasil tinggi. Jika dahulu varietas yang
dipilih dan disukai oleh petani adalah IR-64, saat ini petani sudah berubah,
mengikuti perkembangan varietas padi terbaru. Petani dengan mudah
mendapatkan informasi tentang hal tersebut dari melalui BPTP Banten. Petani
sudah banyak yang menggunakan varietas Ciherang, Mekonga, Cigeulis, Cibogo,
dan lainnya. Bahkan petani sudah banyak yang menggunakan VUB terbaru
seperti Inpari -1, Inpari-2, Inpari-3 sampai Inpari 10. Inpari-13 saat ini
telah pula disosialisasikan dalam penggunaanya karena memiliki potensi hasil
tinggi dan memiliki ketahanan terhadap WBC (wereng batang coklat).
Sejak 3-4 tahun terakhir petani sudah
banyak mengadopsi komponen penggunaan bibit muda (18-21
HSS). Dahulu petani masih menanam dengan menggunakan bibit dengan umur
lebih dari 25 HSS bahkan lebih 35 HSS. Petani mulai menyadari
bahwa penggunaan umur bibit > 25 HSS merupakan salah satu faktor penyebab
turunnya produksi padi. Hal ini dikarenakan jika menggunakan bibit muda maka
jumlah anakan yang dihasilkan pertanaman padi akan lebih tinggi dibandingkan
jika menggunakan bibit tua.
Sistem tanam jajar
legowo sudah menjadi kebiasaan sebagian besar petani. Tanam jajar
legowo merupakan salah satu cara untuk meningkatkan populasi tanaman dan
cukup efektif mengurangi serangan hama tikus, keong mas, dan keracunan besi.
Jajar legowo adalah pengosongan satu baris tanaman, sehingga dikenal
legowo 2:1 apabila satu baris kosong deselingi oleh dua baris tanaman padi
atau 4:1 bila diselingi empat baris tanaman. Keuntungan sistem tanam ini
adalah adanya efek tanaman pinggir, artinya semua tanaman dikondisikan berada
seperti tanaman pinggir yang mampu menerima sinar matahari secara penuh.
Pengendalian hama dan penyakit lebih mudah, menyediakan ruang kosong untuk
pengaturan air dan pemupukan.
Bupati Kab. Lebak
telah menganjurkan/mewajibkan petani menanam padi dengan sistem jajar legowo.
Pada tahun 2009, Bupati Lebak mendapat penghargaan dari Presiden RI karena
mampu meningkatkan produktivitas lebih dari 5%. Pada tahun 2010, juga
diusulkan untuk mendapat penghargaan yang sama karena produktivitas padi
mencapai lebih dari 7%. Sampai saat ini implementasi PTT padi sawah di
Provinsi Banten terutama dengan teknologi sistem jajar legowo,
penggunaan VUB dan tanam bibit muda mencapai lebih dari 2000 ha (Kab.
Serang), 1000 ha (Kab. Pandeglang), 25 000 ha (Kab. Lebak), dan 500 ha
(Kab/Kota Tangerang).
|
0 komentar:
Posting Komentar